Forkopimda Minahasa, Lakukan Persiapan Pemakaman Alm Dr.Drs. Sinyo H. Sarundajang

MINAHASA, postkota.co.id – Forkopimda Kabupaten Minahasa Senin (15/02) 2021, di ruang Maesa Polres Minahasa, menggelar rapat koordinasi dalam rangka Persiapan pemakaman Jenasah Duta Besar Luar Biasa Berkuasa Penuh (LBBP) Republik Indonesia (RI) untuk Filipina, Republik Palau dan Marshal Island Almarhum (Alm) . Dr. Drs. S. H. SARUNDAJANG di Desa Tompaso Dua Kecamatan Tompaso Barat yang rencananya akan dilaksanakan pada Rabu mendatang.

Kapolrs Minahasa AKBP Henzly Moningkey SIK Msi mengatakan, kegiatan Pemakaman Alm Dr Drs S.H Sarundajang akan dikawal ketat oleh pihak polres, dan harus dengan standart protokol kesehatan Covid-19.

“Alm Dr. Drs. S.H Sarundajang Adalah tokoh besar di RI terlebih di sulawesi utara. Pastinya banyak masyarakat yang ingin menyaksikan pemakaman dari Aalmarhum. Untuk itu dari rapat ini tentunya sudah di antisipasi, agar tidak terjadinya kerumunan,” ujar Kapolres.

Ditempat yang sama, Komandan Kodim 1302 Minahasa Hebert Andi Amino Sinaga SIP, mengatakan pelaksanaan pemakaman dari Almarhum akan dilakukan secara Militer.

“Kita tahu bersama, Almarhumn menyandang gelar Bintang Maha Putra Utama Untuk itu akan dilakukan upacara secara militer. Rencananya besok, (red) akan dilakukan gladi untuk upacara pemakaman,” kata Dandim

Pihak pemerintah, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setdakab Minahasa Dr Denny Mangala Msi mengatakan almarhum rencananya akan disemaiamkan di kantor bupati Minahasa.

“Almarhum juga pernah menjabat sebagai Sekertaris Daerah Kabupaten Minahasa. Untuk itu beliau akan disemaiamkan di Kantor Bupati Minahasa sebelum dibawah ke lokasi pemakaman. Dan yang diizinkan hanya pihak keluarga dan yang ditentukan,” imbunya. (varly)

Memasuki Libur Panjang, Kapolres Minahasa : Masyarakat Manfaatkan Libur di Rumah Saja

MINAHASA, postkota.co.id – Berkaitan dengan hari raya Imlek serta libur panjang yang jatuh pada Jumat (12/02) 2021, Kapolres Minahasa, AKBP Henzly Moningkey SIK MSi mengimbau masyarakat untuk tetap mentaati aturan pemerintah tentang Penerapan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Mikro serta penerapan protokol Covid-19.

“Saya mengimbau kepada masyarakat Kabupaten Minahasa untuk memanfaatkan hari libur ini dengan beraktivitas dirumah saja. Karena angka Covid-19 di wilayah kita masi terus bertambah, dan kepada masyarakat agar tidak melakukan kegiatan yang menimbulkan keramaian, atau yang bisa menimbulkan Cluster penyebaran Covid-19 di Minahasa,” Ujar Kapolres ketika ditemui di ruang kerja Kapolres Minahasa, Kamis (11/02) 2020.

Kapolres juga mengatakan untuk tempat-tempat Wisata yang ada di Minahasa agar menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Dan dari Polres Minahasa akan melakukan operasi justisi.

“Kami dari gugus tugas Covid-19 akan melaksanakan operasi justisi yang akan dilakukan di tempat-tempat keramaian, termasuk tempat wisata, dan melakukan pengawasan di pos Kesehatan. Disitu akan dilakukan pengecekan khususnya berkaitan dengan notifikasi perjalanan maupun pengecekan suhu tubuh, kemudian melakukan rapid tes untuk mengetahui seseorang yang terjangkit Covid atau tidak,” Pungkasnya. (varly)

Polres Minahasa, Berhasil Ungkap 3 Kasus di Minahasa

postkota.co.id – Kepolisian Resort Minahasa, Senin 11 Januari 2021 menggelar Konfrensi Pers 3 Kasus yang berhasil diungkap di awal tahun 2021 ini.

Adapun Kasus yang disampaikan yakni, Dugaan penganiayaan secara bersama yang dilakukan oleh tersangka Lelaki WLR alias Babong, lelaki CR alias Chan (23), RRS alias Ica (22), RRM alias Kiki (29), IAK alias Ayen (24), dan VK alias Alen (21), yang mengakibatkan Korban Lery Kapoh Tewas, pada 1 januari lalu.

“Dalam Konfrensi Pers tersebut, dari 6 tersangka, baru dihadirkan 5 tersangka, karena tersangka WLR alias Babong sedang dirawat di Rumah Sakit,” Kata Kasubbag Humas Polres Minahasa AKP Ferdy Pelengkahu SH.

Pada Konfrensi pers itu juga disampaikan 2 Kasus dugaan pencurian kendaraan bermotor yang dilakukan oleh Lelaki NT Alias Tores (15) bersama Lelaki FT alias Lewi (24) yang dilakukan akhir tahun 2020, dan dugaan pencurian barang elektronik (Curanik) di Kawangkoan yang diduga dilakukan oleh lelaki RK alias Aldo.

“Untuk kasus pencurian ini, terjadi di 3 lokasi berbeda oleh tersangka yang berbeda, dan diketahui dari tiga tersangka ini, lelaki RK alias Aldo sudah perna di dipidanan dengan kasus yang sama,” ujar Kasat Reskrim AKP Sugeng Wahyudi Santoso SH SIK.

Adapun dugaan kasus Toto Gelap (Togel) yang berhasil di ungkap oleh Polres Minahasa yang dilakukan oleh lelaki JR Warga Desa Wolaang Kecamatan langowan Timur dan Lelaki FR (35) warga yang sama dan keduanya berperan sebagai pengecer atau pengepul, yang beraksi di wilayah Langowan.

Dari pelaksanaan Konfrensi pers tersebut, juga di tunjukan barang bukti, dari ketiga kasus tersebut, berupa, Bambu, senjata tajam, dan potongan kayu yang dilakukan para tersangka penganiayaan, Dua Unit Sepeda Motor yang diduga dipakai pelaku dan korban dalam melakukan tindakan penganiayaan, Dua Unit Sepeda Motor hasil Curanmor, barang elektronik hasil Curanik, dan barang bukyi uang bersama kupon dari yang digunakan dalam kasus Togel. (varly)

Karang Taruna Desa Pinabetengan Selatan Berbagi Kasih

MINAHASA, postkota.co.id – Berbagi Kasih. Itula yang dilakukan oleh Karang Taruna Desa Pinabetengan Selatan dalam merayakan Natal dan Menyambut Tahun Baru 2021 dengan cara membagi Bantuan kepada para Lanjut Usia yang ada di Desa Pinabetengan Selatan.

Bantuan sosial yang dilakukan oleh Karang Taruna ini yakni Bahan Pokok (Bapok) berupa Beras 5 Liter dan Gula 1,6 Kg untuk masing-masing penerimah.

Ketua Karang Taruna Desa Pinabetengan Selatan, Jenly Turangan, SE mengatakan, pembagian Bapok tersebut, merupakan program dari Karang Taruna setiap tahun.

“Ini merupakan program kami. Untuk pengadaan bahan ini, melalui dana kas yang kami kumpulkan selama tahun 2020,” ujarnya.

Lanjutnya, Dengan adanya bantuan tersebut, masyarakat, khususnya lansia yang ada di desa boleh terbantu.

“Dalam pembagian ini, kami sudah berikan kepada 62 penerima. Harapan kami, dengan Bapok ini, bisa membantu para penerima. apalagi di masa pandemi Covid-19,” tutur pemuda yang biasa di sapa Pace. (varly)

Smash VS FU, Lelaki Langowan Meregang Nyawa

MINAHASA, postkota.co.id – Randy Kandores (23) Warga Desa Paslaten Kecamatan Langowan Barat meregang nyawa usai terjadi kecelakaan Lalulintas di ruas jalan raya Walanakan Kecamatan Langowan Utara, Minggu (27/12) 2020.

Diketahui,  Kronologi kejadian berawal dimana pada saat kendaraan roda dua jenis susuki satria FU dengan nomor polisi DB 6559 EQ yang dikemudikan oleh Korban Randy Kandores tanpa mengunakan helm dengan kecepatan tinggi bergerak dari arah jalan Desa Paslaten menuju ke arah  Desa Toraget.

Saat itu Kendaraan motor jenis Suzuki Smash warna hitam yang dikemudikan oleh lelaki Risky Mandagi (15) Warga Kakaskasen Tomohon berboncengan dengan lelaki Aprilio Rahman (14) berlawananan arah dengan korban, sehingga tabrakan tak dapat dihindari.

Dari kejadian itu, Warga yang melihat kejadian itu langsung melarikan ke tiga lelaki tersebut. Namun Nyawa Lelaki Randi tidak dapat tertolong.

Kapolres Minahasa AKBP Henzly Moningkey SIK MSi melalui Kasubbag Humas AKP Ferdy Pelengkahu SH mengatakan, saat mendapat informasi, Sat Lantas Polres Minahasa langsung mengamankan TKP dan Mengamankan kedua kendaraan Naas tersebut.

“Saat ini Faktor penyebab kecelakaan itu masi dalam proses penyelidikan oleh Unit Laka Lantas Satuan Lalulintad Polres Minahasa,”ujar Pelengkahu. (varly)

Karena Kemurahan Tuhan Saya Selamat Dari Ventilator

Oleh Immanuel Richendry Hot, S.H., M.H.

Kesaksian ini saya sampaikan kepada seluruh masyarakat Indonesia dimanapun mereka berada mengingat wabah Virus Covid-19 di Era New Normal semakin menakutkan kita semua, mengingat hampir
seluruh daerah di Indonesia memperoleh Predikat Zona Merah (Red Zone). kiranya cerita ini dapat menginspirasi semua orang untuk lebih memahami bahwa Covid 19 itu ada dan nyata yang saya alami sendiri beberapa waktu yang lalu.

Saya adalah ASN pada Kejaksaan RI yang bertugas di Tomohon Sulawesi Utara sebagai Kepala Kejaksaan Negeri Tomohon sejak tanggal 30 Januari 2020 selama tiga bulan saya menjabat di Kejaksaan Negeri Tomohon, mulai merebak di Indonesia bahkan di dunia dengan Virus yang sangat mematikan dikenal dengan virus Corona atau Covid-19.

Sekitar tanggal 5 September 2020 saya berangkat ke Jakarta menemui keluarga. Selama saya di Jakarta, saya kena flu, batuk berdahak dan saya pikir ini karena perubahan cuaca mengingat di Tomohon udaranya dingin sedangkan di Jakarta panas. Salah satu gejala
Covid adalah batuk kering bukan batuk berdahak dan saya tidak terpikirkan bahwa itu adalah awalnya Virus Covid ada di tubuh saya. Tanggal 8 September saya kembali ke Tomohon untuk melaksanakan tugas saya.

Beberapa hari kemudian saya rasakan flu dan batuk saya mulai sembuh namun saya merasakan hilang indra penciuman dan badan saya lelah.

Pada hari Rabu tanggal 16 September 2020 sekitar pukul 19.30 saya pulang dari setelah mengikuti Rakernis Bidang Tindak Pidana Umum secara Virtual. Dan sampai di rumah saya langsung mengganti pakaian saya untuk tidur namun saudara Ivan (supir saya) menanyakan “Apakah Bapak tidak mau makan dulu?” dan saya jawab “saya mau tidur, saya capek”.

Keesokan harinya saya tidak tahu lagi apa yang terjadi dan kalaupun dapat saya ceritakan itu cerita yang saya dengar langsung dari Istri saya, Dokter dan Perawat, Staf yang menyertai saya, selama
saya dirawat di RSPP Prof. Dr. R.D Kandou Manado, Sulawesi Utara yang merupakan Rumah sakit khusus merawat Covid-19.

Keesokan harinya, saya tidak bangun dari tidur sebagaimana biasanya. Hal itu membuat Ivan (supir) dan ibu Masye (ART) bingung dan panik. Mereka mencoba membangunkan saya dengan menggedor pintu kamar, namun saya tidak kunjung bangun.

Kemudian Ivan mendatangi rumah Ibu Dapot (Istri Kasi Pidum) yang berada di belakang rumah dinas saya. Kemudian Ibu Dapot menghubungi Istri saya melalui Hp dan menyampaikan keadaan saya saat itu. Selanjutnya Ibu Dapot menghubungi Pak Dapot menyampaikan kondisi saya dan selanjutnya mereka kembali ke rumah dan membuka pintu kamar ternyata saya sudah tergeletak namun masih bernafas. kemudian istri saya menelpon Pak Hanny dari Dinas Kesehatan untuk meminta tolong agar dikirimkan ambulance beserta dokternya. dibawah ke rumah sakit Anugrah Tomohon.

Di Rumah sakit Anugerah Tomohon saya langsung dimasukan ke IGD kemudian ditangani oleh dokter dan perawat dimana mereka memasang seluruh perlengkapan pernafasan karena melihat Saturasi (oksigen yang larut dalam darah) rendah. Dan dokter berusaha menanyakan saya dengan membangunkan saya, “Pak Kajari sakit apa?” dan saya jawab “Saya capek”.

Melihat kondisi saya sudah semakin melemah kemudian sekitar Pukul 17.30 Wita saya dibawa dengan Ambulance untuk dirujuk ke Rumah Sakit Siloam Manado. Dalam perjalanan menuju Manado istri saya sempat menelpon ke handphone saudara Glint yang mendampingi saya di Ambulance.

Ketika istri saya Videocall dengan saya, jelas dilihat istri saya, saya merenspon dengan membuka mata kemudian istri saya mengatakan “Papi kamu harus kuat, saya mau ke bandara untuk berangkat ke Manado”. Dan saya menjawab “Iya” Sambil mengacungkan dua tangan dengan simbol jempol.

Sesampainya di Rumah Sakit Siloam Manado, saya langsung di bawah ke ruang IGD, tapi saya belum langsung mendapat penanganan karena penanggungjawab pasien harus menandatangani persetujuan sesuai dengan SOP di Rumah Sakit tersebut mengingat Rumah Sakit Siloam tidak merawat pasien Covid19.

Karena belum ada yang berani untuk menandatangani dokumen tersebut, akhirnya Dokter menelpon istri saya via handphone dari Pak James (Kasi Intel) sambil menjelaskan jika dokumen tersebut tidak ditandatangani maka saya belum dapat penanganan lebih lanjut, setelah mendengar penjelasan dokter tersebut istri saya meminta supaya salah satu dari yang ikut mendampingi saya saya untuk menandatangani dokumen pasien.

Beberapa saat kemudian Dokter kembali
menelpon istri saya untuk mengabarkan bahwa kondisi saya semakin memburuk, atau kalau menggunakan bahasa dari dokternya “parah”. Dokter menjelaskan kondisi ginjal saya rusak dan gula darah saya juga naik.

Kemudian dilakukan Swab dan hasilnya Positif Covid-19. Dokter pun memberikan alternative rekomendasi rumah sakit rujukan yaitu di Rumah Sakit Paal 2 atau RSPP Prof.
Dr. R.D Kandouw, istri saya meminta saran Rumah Sakit mana kiranya yang paling baik dan Dokter merekomendasikan RSPP Prof. Dr. R.D Kandou karena bertipe A. Kemudian istri saya memutuskan agar saya di rujuk ke RSPP Prof.Dr. R.D Kandou. Saya pun dirujuk lagi ke RSPP Prof. Dr. R.D Kandou tetap dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Pada hari Jumatnya Setelah saya sampai di RSPP Prof. Dr. R.D Kandou, kurang lebih Jam 02.00 WITA, istri saya dihubungi oleh dokter untuk memberitahukan bahwa kondisi saya semakin memburuk dan mengatakan bahwa harapan hidup saya tinggal 10 % saja dan istri saya diminta untuk menandatangani surat pernyataan jika sesuatu yang tidak diingikan terjadi maka saya harus dikuburkan sesuai dengan Prosedur tetap (Protap) Covid 19 dan dokumen
ini harus disetujui dan ditandatangi.

Pagi harinya istri saya tiba di Bandara Sam Ratulangi Manado langsung menuju ke RSPP Prof. Dr. R.D Kandou dan sesampainya di Rumah sakit Istri saya diundang ke ruang Pemantauan Pasien Covid yang dirawat di ICU dan langsung menanyakan kondisi saya, dijelaskan oleh Dokter bahwa saturasi saya 50/40 yang artinya kondisi saya makin memburuk. Dalam kondisi saya yang seperti itu, dihadapan suster dan dokter istri saya berucap “Tapi kita punya Tuhan, saya bisa berdoa, saya punya harapan kalau suami saya pasti hidup” mendengar itu dokter pun membalas “hanya itulah satu-satunya
jalan, hanya dengan doa bisa menyembuhkan semua”.

Kemudian istri saya diminta menandatangani surat ijin untuk menggunakan Ventilator, awalnya istri saya belum mau menandatangani surat tersebut, tapi setelah dijelaskan bahwa ini adalah penanganan terakhir karena kondisi saya yang saat itu memburuk maka istri saya pun akhirnya menandatangani surat tersebut dan setuju supaya saya dipasangkan Ventilator.

Setelah itu istri saya keluar dari ruang edukasi istri saya terduduk dan menangis sambil terus berdoa, dalam doanya istri
saya berkata “Tuhan berikan kesempatan bagi suami saya untuk hidup, agar dia sembuh dan dia memuliakan nama Tuhan”.

Beberapa saat kemudian saat istri saya berjalan menuju Pos Satpam dan ketika istri saya berada di Pos Satpam seorang laki-laki datang dan memperkenalkan dirinya “Saya Pak Pajaitan Direktu Direktur Medic RSPP Prof. Dr. R.D Kandou”. Beliau mengatakan kepada istri saya ”Memang kondisi Bapak kurang bagus tapi jika Ibu ingin berdoa, saya bisa meminjamkan Handie-Talkie. Nanti HT yang ada di dalam ruang ICU tempat Bapak dirawat HT tersebut akan ditaruh di kuping Bapak”.

Sewaktu akan berdoa istri saya diminta oleh Pak Panjaitan “Ibu jangan menangis, kalau ibu menangis kondisi Bapak yang ada di dalam Ruang ICU bisa menurun, berdoa biasa saja supaya bapak bisa semangat”. Kemudian Istri saya menyampaikan kepada saya “Papi ini Mami, Mami dan Steven sudah ada disini, Papi semangat, saya yakin Tuhan pasti menyembuhkan Papi”.

Dari cerita suster yang bertugas di dalam Ruang ICU, melihat kejadian itu suster tersebut juga menangis terharu karena pada saat itu saya merespon doa istri saya sambil menangis.

Walau kondisi saya dalam beberapa hari belum membaik, tapi istri saya tetap selalu berdoa bahkan mereka berdoa sambil bergandengan tangan bersama-sama (Istri saya, Steven dan ibu Masye) di dalam setiap doa mereka, “Papi pasti sembuh, Papi pasti sembuh”.

Hari Keempat saya kritis istri saya masuk IGD RSPP Prof. Dr. R.D Kandou. karena
tensi saat itu 199. Hal ini dikarenakan kecapean dan tidak nafsu makan. Setelah beberapa jam istrirahat dan diberi obat penurun darah tinggi, setelah tensi menunjuk angka 150 istri saya diperbolehkan pulang untuk rawat jalan di rumah dan tugas mengunjungi saya di Rumah
Sakit digantikan Steven.

Hari ke lima Steven banyak mendengar orang-orang membicarakan saya sudah tidak ada harapan, Mayat Hidup yang membuat dia marah namun kemarahan itu dia lampiaskan kepada saya. Steven Ijin
masuk keruangan pemantauan dan minta ijin suster yang jaga untuk berdoa buat saya. Namun yang dilakukan bukan berdoa buat saya tapi berteriak membentak saya “Papi Bangun! Papi Bangun! Papi Jangan
tidur saja, Papi harus kuat, Papi harus sehat!” reaksi saya ketika mendengar teriakan Steven sekujur tubuh saya menggelepar dan merontah ingin mencari Steven namun oleh suster dan mantri yang berada pada saat itu di ruang ICU menenangkan saya kemudian reaksi dari teriakan Steven pada sore harinya saya mulai sadar dan meminta Handphone pada istri saya melalui suster.

Keesokan harinya Rabu tanggal 23 September 2020 saya benar-benar sudah sadar dan yang saya rasakan saat itu saya seperti orang yang baru bangun setelah tidur panjang kelelahan karena perjalanan jauh. Begitu saya sadar saya bertanya kepada suster “Saya ada dimana?” kemudian
dijawab suster tersebut kalau saya ada di RSPP Prof. Dr. R.D Kandou. dan saya diberitahu oleh suster saya tidak sadarkan diri selama 6 hari dan bapak hebat luar biasa karena bapak adalah satu-satunya pasien yang hidup di Sulawesi Utara (dari 19 pasien yang dipasang ventilator sampai dilepas).

Kemudian saya lihat ada Handphone di meja dekat tempat tidur saya dan saya tanyakan “ini Handphone siapa?” lalu suster menjawab “Ini Handphone Pak Immanuel yang bapak minta tadi malam dan Handphone tersebut diantar persis tadi malam jam 12. ”. ternyata sebelum
betul-betul sadar, saya sempat meminta Handphone saya. Langsung saya ambil Handphone tersebut dan saya telpon pak Andy M. Iqbal Kajati Sulut, “Pak, Ijin saya sakit” terus dijawab pak Kajati “Saya sudah tahu, saya monitor kamu, jangan banyak pikir pekerjaan dulu dan yang lain-lain kamu istirahat saja dulu, ikuti peraturan Rumah Sakit dan tetap semangat”.

Puji Tuhan Mujizat terjadi terhadap diri saya,
dimana saya sudah dinyatakan tidak ada harapan secara medis namun ternyata Tuhan masih sayang dan memberikan saya kesempatan yang kedua. Dan setelah
diobservasi ternyata ginjal saya masih bagus, gula darah saya normal juga jantung saya ok. Karena saya selalu melihat Virus Covid 19 dengan Mindset saya ternyata
pada malam hari setelah saya sadar sekitar antara pukul 23.00 WITA saya melihat ada seorang Bapak memakai Peci dan sarung berada di Ruangan ICU. Orang tersebut
berdiri di depan kamar mandi (pintu kamar mandi terbuka setengah) dan berdoa dengan menggunakan bahasa Arab.

Setelah selesai berdoa orang tersebut menyapa saya, “Selamat malam Pak Immanuel” sambil menghampiri saya dan bersalaman sambil mengatakan “Selamat Pak Immanuel semoga cepat sembuh”
kemudian orang tersebut keluar dari ruang ICU.

Pada saat itu saya sempat berpikir apa yang salah dari yang telah saya lihat, yang masuk ke ruangan ICU adalah Dokter dan Para Medis yang berpakaian APD lengkap, sedangkan orang itu tidak, lalu orang itu siapa? saya tidak banyak berpikir atas
apa yang saya lihat selanjutnya saya tidur.

Keesokan paginya saya bertanya kepada suster tentang apa yang saya alami tadi malam dan suster tersebut menceritakan bahwa orang yang saya ceritakan adalah pasien Covid pertama (kembali dari umroh) dan pasien tersebut sudah meninggal . Puji Tuhan ternyata Tuhan memperlihat kan kepada saya apa yang saya anggap
selama ini ibarat setan itu ada tapi tidak ada sebagaimana saya melihat kepada Pandemi
Covid 19.

Disamping Covid-19 ternyata telah terjadi pendarahan lambung dan saya dirawat
selama 14 hari. Setelah lambung saya normal kembali dan dilakukan test Swab terhadap saya, kemudian saya dinyatakan negatif untuk kedua kalinya.

Kemudian tepat tanggal 17 Oktober 2020 saya diperbolehkan pulang dari rumah sakit untuk Isolasi Mandiri selama 14 hari dan saya mulai aktif kembali bekerja di kantor tanggal 02 November 2020.

Satu hal yang saya ingin sampaikan kepada bapak ibu yang membaca kisah saya, bahwa Covid itu ada dan nyata. Covid bukanlah sesuatu yang aib sehingga tidak perlu
disembunyikan dari orang lain namun apabila ada anggota keluarga yang terjangkit Covid agar menginformasikan ke seluruh keluarga, teman, sahabat, baik grup-grup yang ada dalam WA kita untuk minta didoakan agar kita disembuhkan dari Covid-19. Dan jangan takut menghadapi Covid.

Di Dalam menghadapi Covid, kita harus rileks, tidak banyak pikiran, banyak istirahat dan jangan lupa taat SOP Covid 19, Pakai
Masker, Jaga Jarak Sering Cuci Tangan. Semoga kesaksian ini dapat menjadi berkat buat yang membaca.

KKGM, Berbagi Sukacita Natal Ditengah Pandemi Covid-19

MINAHASA, postkota.co.id – Kerukunan Keluarga Gema Makawanua (KKGM) Tondano, berbagi kasih kepada masyarakat yang ada Kecamatan Tondano Raya dan Kecamatan Eris, Jumat (18/12) 2020.

Ketua Dewan Eksekutif KKGM Tondano Mikhael Rambitan SH, MH mengatakan, Berbagi kasih merupakan agenda yang dilakukan setiap tahun. Namun kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

“Tahun-tahun sebelumnya selain membagikan sembako kepada masyarakat yang membutuhkan, KKGM melaksankan kegiatan santa claus gratis, kepada anak-anak yang ada di wilayah Tondano Raya. Namun tahun ini sedikit berbeda, tidak ada santa claus gratis. mengingat kita harus memperhatikan anjuran pemerintah dan menerapkan protokol kesehatan Covid-19,” katanya.

Lanjutnya, Kegiatan sosial yang bertajuk “Berbagi Sukacita Natal ditengah Pandemi Covid-19”, Makawanua di bagi 5 tim yang tersebar di 5 kecamatan. Dan berbagi kasih dengan memberikan sembako kepada keluarga/masyarakat yang membutuhkan.

“Apa yang Makawanua berikan tidak seberapa, namun kiranya dapat sedikit membantu masyarakat terutama dalam menghadapi situasi Pandemi Covid-19 ini” Tutur Ketua Dewan Eksekutif Mikha.

Turut berbagi kasih bersama Makawanua Tondano, Ketua DPD KNPI Minahasa Rifky Johanes Roring. (varly)

Tidak Ada Lagi Postingan yang Tersedia.

Tidak ada lagi halaman untuk dimuat.